Sabtu, 25 September 2021

Tiongkok in History

@triani_21

 

Klaim: sumber yg saya dapatkan berdasarkan wikipedia, mohon koreksinya bila terdapat kesalahan. Saya menulis ini karena suka dengan drama wuxia atau genre kolosal, sejak usia sekolah dasar. Banyak drama yg telah saya tonton dan diambil pelajarannya, terutama bila terkait sejarah. Saya menyukai kostum, hanfu hair style, kungfu, cooking and history plus ost. 
 
Berikut rangkuman yamg saya dapat dari wikipedia:
Sejarah Cina adalah tanda dari salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Peradaban Cina berawal dari beragam negara kota di sepanjang lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Sejarah tertulis Cina dimulai sejak Dinasti Shang (k. 1750 SM - 1045 SM).[1] Cangkang kura-kura dengan tulisan Cina kuno yang berasal dari Dinasti Shang memiliki penanggalan radiokarbon sampai 1500 SM.[2] Kecerdikan budi, sastra, dan filsafat Cina berkembang pada zaman Dinasti Zhou (1045 SM sampai 256 SM) yang melanjutkan Dinasti Shang. Dinasti ini merupakan dinasti yang sangat lama berkuasa dan pada zaman dinasti inilah tulisan Cina modern mulai berkembang.


Dinasti Zhou terpecah menjadi beberapa negara kota, yang menciptakan Periode Negara Perang. Pada tahun 221 SM, Qin Shi Huang menyatukan beragam kerajaan ini dan mendirikan kekaisaran pertama Cina. Pergantian dinasti dalam sejarah Cina telah mengembangkan suatu sistem birokrasi yang memungkinkan Kaisar Cina memiliki kendali langsung terhadap wilayah yang luas.

Pandangan konvensional terhadap sejarah Cina adalah bahwa Cina merupakan suatu negara yang mengalami pergantian selang periode persatuan dan perpecahan politis yang kadang-kadang direbut oleh orang-orang asing, yang sebagian besar terasimiliasi ke dalam populasi Suku Han. Pengaruh kecerdikan budi dan politik dari beragam wilayah di Asia, yang dibawa oleh gelombang imigrasi, ekspansi, dan asimilasi yang bergantian, menyatu bagi membentuk kecerdikan budaya Cina modern.

Prasejarah

Paleolitik

Homo erectus telah mendiami daerah yang sekarang dikenal sebagai Cina sejak zaman Paleolitik, sekitar lebih dari satu juta tahun yang lalu [3]. Kajian menunjukkan bahwa alat batu yang ditemukan di situs Xiaochangliang telah berumur 1,36 juta tahun [4]. Situs arkeologi Xihoudu di provinsi Shanxi menunjukkan catatan sangat awal penggunaan api oleh Homo erectus, yang berumur 1,27 juta tahun yang lalu [3]. Ekskavasi di Yuanmou dan Lantian menunjukkan pemukiman yang semakin lampau. Spesimen Homo erectus sangat terkenal yang ditemukan di Cina adalah Manusia Peking yang ditemukan pada tahun 1965.

Tiga pecahan tembikar yang berasal dari 16500 dan 19000 SM ditemukan di Gua Liyuzui di Liuzhou, provinsi Guangxi [5].

Neolitik


Tembikar Neolitik Cina.
Zaman Neolitik di Cina mampu dilacak sampai 10.000 SM [6]. Bukti-bukti awal pertanian milet memiliki penanggalan radiokarbon sekitar 7000 SM [7]. Kebudayaan Peiligang di Xinzheng, Henan berhasil diekskavasi pada tahun 1977 [8]. Dengan berkembangnya pertanian, muncul peningkatan populasi, kemampuan menyimpan dan mendistribusikan hasil panen, serta pengerajin dan pengelola [9]. Pada kesudahan Neolitikum, lembah Sungai Kuning mulai berkembang menjadi pusat kebudayaan dengan penemuan arkeologis signifikan ditemukan di Banpo, Xi'an [10]. Sungai Kuning dinamakan demikian diakibatkan terdapatnya abu sedimen (loess) yang bertumpuk di tepi sungai dan tanah sekitarnya, yang akhir setelah terbenam di sungai menimbulkan warna yang kekuning-kuningan pada cairan sungai tersebut.[11]

Sejarah awal Cina dihasilkan bentuk berbelit oleh kurangnya tulisan pada periode ini dan dokumen-dokumen pada masa sesudahnya yang mencampurkan fakta dan fiksi pada zaman ini. Pada 7000 SM, penduduk Cina bercocok tanam milet, menumbuhkan kebudayaan Jiahu. Di Damaidi di Ningxia, ditemukan 3.172 lukisan gua berasal dari 6000-5000 SM yang mirip dengan karakter-karakter awal yang dikonfirmasi sebagai tulisan Cina [12][13]. Kebudayaan Yangshao yang muncul belakangan dilanjutkan dengan kebudayaan Longshan pada sekitar 2500 SM.

Zaman kuno

Dinasti Xia (2100 SM-1600 SM)

Dinasti Xia adalah dinasti pertama yang diucapkan dalam catatan sejarah seperti Catatan Sejarah Luhur dan Sejarah Bambu.[1][14] Dinasti ini didirikan oleh Yu yang Luhur (Da Yu). Sebagian akbar arkeolog sekarang menghubungkan Dinasti Xia dengan hasil-hasil ekskavasi di Erlitou, provinsi Henan,[15] yang berupa temuan perunggu leburan dari sekitar tahun 2000 SM. Beragam tanda-tanda yang terdapat pada tembikar dan kulit kerang yang ditemukan pada periode ini, diduga adalah bentuk pendahulu dari aksara moderen Cina.[16]

Menurut kronogi tradisional berdasarkan agak Liu Xin, dinasti ini berkuasa selang 2205 SM sampai 1766 SM, sedangkan menurut Sejarah Bambu, pemerintahan dinasti ini adalah selang 1989 SM dan 1558 SM. Menurut Proyek Kronologi Xia Shang Zhou yang diselenggarakan oleh pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun 1996, dinasti ini berkuasa selang 2070 SM sampai 1600 SM.[17][18]

Dinasti Shang (1600 SM-1046 SM)

Dinasti Shang menurut sumber tradisional adalah dinasti pertama Cina. Menurut kronologi berdasarkan agak Liu Xin, dinasti ini berkuasa selang 1766 SM dan 1122 SM, sedangkan menurut Sejarah Bambu adalah selang 1556 SM dan 1046 SM. Hasil dari Proyek Kronologi Xia Shang Zhou pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun 1996 menyimpulkan bahwa dinasti ini memerintah selang 1600 SM sampai 1046 SM. Informasi langsung tentang dinasti ini berasal dari inskripsi pada artefak perunggu dan tulang orakel,[19] serta dari Catatan Sejarah Luhur (Shiji) karya Sima Qian.

Temuan arkeologi memberikan bukti keberadaan Dinasti Shang sekitar 1600-1046 SM, yang terbagi menjadi dua periode. Bukti keberadaan Dinasti Shang periode awal (k. 1600-1300 SM) berasal dari penemuan-penemuan di Erlitou, Zhengzhou dan Shangcheng.[19] Sedangkan bukti keberadaan Dinasti Shang periode kedua (k. 1300–1046 SM) atau periode Yin (殷), berasal dari kelompok akbar tulisan pada tulang orakel. Para arkeolog mengkonfirmasikan bahwa kota Anyang di provinsi Henan adalah ibukota terakhir Dinasti Shang,[19] dari sembilan ibukota lainnya. Dinasti Shang diperintah 31 orang raja, sejak Raja Tang sampai dengan Raja Zhou sebagai raja terakhir. Masyarakat Cina masa ini mempercayai banyak dewa, selang lain dewa-dewa cuaca dan langit, serta dewa tertinggi yang dinamakan Shang-Ti.[20] Mereka juga percaya bahwa nenek moyang mereka, termasuk orang tua dan kakek-nenek mereka, setelah meninggal akan menjadi seperti dewa pula dan layak disembah.[21] Sekitar tahun 1500 SM, orang Cina mulai menggunakan tulang orakel bagi memprediksi masa depan.

Para ilmuwan Barat cenderung ragu-ragu bagi menghubungkan beragam permukiman yang sezaman dengan pemukiman Anyang sebagai anggota dari dinasti Shang.[22] Hipotesa terkuat ialah telah terjadinya ko-eksistensi selang Anyang yang diperintah oleh Dinasti Shang, dengan pemukiman-pemukiman berbudaya lain di wilayah yang sekarang dikenal sebagai "Cina sebenarnya" (China proper).

Dinasti Zhou (1046 SM–256 SM)

Dinasti Zhou adalah dinasti terlama berkuasa dalam Cina yang menurut Proyek Kronologi Xia Shang Zhou berkuasa selang 1046 SM sampai 256 SM. Dinasti ini mulai tumbuh dari lembah Sungai Kuning, di sebelah barat Shang. Penguasa Zhou, Wu Wang, berhasil mengalahkan Shang pada Pertempuran Muye. Pada masa Dinasti Zhou mulailah dikenal konsep "Mandat Langit" sebagai legitimasi pergantian kekuasaan,[23] dan konsep ini seterusnya berpengaruh pada hampir setiap pergantian dinasti di Cina. Ibukota Zhou awalnya berada di wilayah barat, yaitu dekat kota Xi'an moderen sekarang, namun akhir terjadi serangkaian ekpansi ke arah lembah Sungai Yangtze. Dalam sejarah Cina, ini menjadi awal dari migrasi-migrasi penduduk selanjutnya dari utara ke selatan.

Periode Musim Semi dan Musim Gugur (722 SM-476 SM)

Pada sekitar ratus tahun ke-8 SM, terjadi desentralisasi kekuasaan pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur, yang diberi nama berdasarkan karya sastra Chun Qiu (Musim Semi dan Gugur). Pada zaman ini, pimpinan militer lokal yang digunakan Zhou mulai menunjukkan kekuasaannya dan berlomba-lomba memperoleh hegemoni. Invasi dari barat laut, misalnya oleh Qin, memaksa Zhou bagi memindahkan ibu kotanya ke timur, yaitu ke Luoyang. Ini menandai fase kedua Dinasti Zhou: Zhou Timur. Ratusan negara bermunculan, beberapa di selangnya hanya seluas satu desa, dengan penguasa setempat memegang kekuasaan politik penuh dan kadang menggunakan gelar kehormatan bagi dirinya. Seratus Arus Pemikiran dari filsafat Cina berkembang pada zaman ini, berikut juga beberapa gerakan intelektual berpengaruh seperti Konfusianisme, Taoisme, Legalisme, dan Mohisme.[24]

Periode Negara Perang (476 SM-221 SM)

Setelah beragam konsolidasi politik, tujuh negara terkemuka bertahan pada kesudahan ratus tahun ke-5 SM. Walaupun masa itu sedang terdapat raja dari Dinasti Zhou sampai 256 SM, namun ia hanya seorang pemimpin nominal yang tidak memiliki kekuasaan yang nyata. Pada masa itu, daerah tetangga dari negara-negara yang bertempur juga ditaklukkan dan menjadi wilayah baru, selang lain Sichuan dan Liaoning; yang akhir diatur di bawah sistem administrasi lokal baru berupa commandery dan prefektur (郡县/郡县). Negara Qin berhasil menyatukan ketujuh negara yang mempunyai, serta melaksanakan ekspansi ke wilayah-wilayah Zhejiang, Fujian, Guangdong, dan Guangxi pada 214 SM.[25] Periode masa negara-negara saling bertempur sampai penyatuan seluruh Cina oleh Dinasti Qin pada tahun 221 SM, dikenal dengan nama "Periode Negara Perang", yaitu penamaan yang diambil dari nama karya sejarah Zhan Guo Ce (Strategi Negara Berperang).

Zaman kekaisaran

Dinasti Qin (221 SM–206 SM)

Dinasti Qin berhasil menyatukan Cina yang terpecah menjadi beberapa kerajaan pada Periode Negara Perang melalui serangkaian penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan lain, dengan penaklukan terakhir adalah terhadap kerajaan Qi pada sekitar tahun 221 SM.[25] Qin Shi Huang dinobatkan menjadi kaisar pertama Cina bersatu pada tahun tersebut. Dinasti ini terkenal mengawali pembangunan Tembok Akbar Cina yang belakangan diselesaikan oleh Dinasti Ming serta peninggalan Terakota di makam Qin Shi Huang.

Beberapa kontribusi akbar Dinasti Qin, selang termasuk terbentuknya konsep pemerintahan terpusat, penyatuan undang-undang hukum, diterapkannya bahasa tertulis, satuan pengukuran, dan mata uang bersama seluruh Cina, setelah berlalunya masa-masa kesengsaraan pada Zaman Musim Semi dan Gugur. Bahkan hal-hal yang mendasar seperti panjangnya as roda bagi gerobak dagang, masa itu mengalami penyeragaman demi menjamin berkembangnya sistem perdagangan yang adun di seluruh kekaisaran.[26]

Dinasti Han (206 SM–220)

Dinasti Han didirikan oleh Liu Bang, seorang petani yang memimpin pemberontakan rakyat dan meruntuhkan dinasti sebelumnya, Dinasti Qin, pada tahun 206 SM. Zaman kekuasaan Dinasti Han terbagi menjadi dua periode yaitu Dinasti Han Barat (206 SM - 9) dan Dinasti Han Timur (23 - 220) yang dipisahkan oleh periode pendek Dinasti Xin (9 - 23).

Kaisar Wu (Han Wudi 漢武帝/汉武帝) berhasil mengeratkan persatuan dan memperluas kekaisaran Cina dengan mendesak bangsa Xiongnu (sering disamakan dengan bangsa Hun) ke arah stepa-stepa Mongolia Dalam, dengan demikian merebut wilayah-wilayah Gansu, Ningxia, dan Qinghai. Hal tersebut menyebabkan bukanya bagi pertama kali perdagangan selang Cina dan Eropa, melalui Jalur Sutra. Jenderal Ban Chao dari Dinasti Han bahkan memperluas penaklukannya melintasi pegunungan Pamir sampi ke Laut Kaspia.[27] Kedutaan pertama dari Kekaisaran Romawi tercatat pada sumber-sumber Cina pertama kali dibuka (melalui jalur laut) pada tahun 166, dan yang kedua pada tahun 284.

Zaman Tiga Negara (220–280)

Zaman Tiga Negara (Wei, Wu, dan Shu) adalah suatu periode perpecahan Cina yang berlangsung setelah lenyapnya kekuasaan de facto Dinasti Han. Secara umum periode ini dianggap berlangsung sejak pendirian Wei (220) sampai penaklukan Wu oleh Dinasti Jin (280), walau banyak sejarawan Cina yang menganggap bahwa periode ini berlangsung sejak Pemberontakan Serban Kuning (184).

Dinasti Jin dan Enam Belas Negara (280-420)

Cina berhasil dipersatukan sementara pada tahun 280 oleh Dinasti Jin. Walaupun demikian, kelompok etnis di luar suku Han (Wu Hu) sedang menguasai sebagian akbar wilayah pada awal ratus tahun ke-4 dan menyebabkan migrasi besar-besaran suku Han ke selatan Sungai Yangtze. Anggota utara Cina terpecah menjadi negara-negara kecil yang membentuk suatu era turbulen yang dikenal dengan Zaman Enam Belas Negara (304 - 469).

Dinasti Utara dan Selatan (420–589)

Menyusul keruntuhan Dinasti Jin Timur pada tahun 420, Cina memasuki era Dinasti Utara dan Selatan. Zaman ini merupakan masa perang saudara dan perpecahan politik, walaupun juga merupakan masa berkembangnya seni dan kecerdikan budi, kemajuan teknologi, serta penyebaran Kepercayaan kepada tuhan Buddha dan Taoisme.

Dinasti Sui (589–618)

Setelah hampir empat ratus tahun perpecahan, Dinasti Sui berhasil mempersatukan kembali Cina pada tahun 589 dengan penaklukan Yang Jian, pendiri Dinasti Sui, terhadap Dinasti Chen di selatan. Periode kekuasaan dinasti ini selang lain ditandai dengan pembangunan Terusan Akbar Cina dan pembentukan banyak lembaga pemerintahan yang nantinya akan diadopsi oleh Dinasti Tang.

Dinasti Tang (618–907)

Pada 18 Juni 618, Li Yuan naik tahta dan memulai era Dinasti Tang yang menggantikan Dinasti Sui. Zaman ini merupakan masa kemakmuran dan perkembangan seni dan teknologi Cina. Kepercayaan kepada tuhan Buddha menjadi kepercayaan kepada tuhan utama yang dianut oleh keluarga kerajaan serta rakyat kebanyakan. Sejak sekitar tahun 860, Dinasti Tang mulai mengalami kemunduran karena munculnya pemberontakan-pemberontakan.

Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (907–960)

Selang tahun 907 sampai 960, sejak runtuhnya Dinasti Tang sampai berkuasanya Dinasti Song, terjadi suatu periode perpecahan politik yang dikenal sebagai Zaman Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Pada masa yang cukup singkat ini, lima dinasti (Liang, Tang, Jin, Han, dan Zhou) secara bergantian menguasai jantung wilayah kerajaan lama di utara Cina. Pada masa yang bersamaan, sepuluh negara kecil lain (Wu, Wuyue, Min, Nanping, Chu, Tang Selatan, Han Selatan, Han Utara, Shu Awal, dan Shu Akhir) berkuasa di selatan dan barat Cina.

Dinasti Song, Liao, Jin, serta Xia Barat (960-1279)

Selang tahun 960 sampai 1279, Cina direbut oleh beberapa dinasti. Pada tahun 960, Dinasti Song (960-1279) yang beribu kota di Kaifeng menguasai sebagian akbar Cina dan mengawali suatu periode kesejahteraan ekonomi. Wilayah Manchuria (sekarang dikenal dengan Mongolia) direbut oleh Dinasti Liao (907-1125) yang selanjutnya digantikan oleh Dinasti Jin (1115-1234). Sementara itu, wilayah barat laut Cina yang sekarang dikenal dengan provinsi-provinsi Gansu, Shaanxi, dan Ningxia direbut oleh Dinasti Xia Barat selang tahun 1032 sampai 1227.

Dinasti Yuan (1279–1368)


Kublai Khan, pendiri Dinasti Yuan
Selang tahun 1279 sampai tahun 1368, Cina direbut oleh Dinasti Yuan yang berasal dari Mongolia dan didirikan oleh Kublai Khan. Dinasti ini menguasai Cina setelah berhasil meruntuhkan Dinasti Jin di utara sebelum melakukan usaha ke selatan dan mengakhiri kekuasaan Dinasti Song. Dinasti ini adalah dinasti pertama yang memerintah seluruh Cina dari ibu kota Beijing.

Sebelum invasi bangsa Mongol, laporan dari dinasti-dinasti Cina memperkirakan terdapat sekitar 120 juta penduduk; namun setelah penaklukan berkesudahan secara menyeluruh pada tahun 1279, sensus tahun 1300 menyebutkan bahwa terdapat 60 juta penduduk.[28] Demikian pula pada pemerintahan Dinasti Yuan terjadi epidemi ratus tahun ke-14 berupa wabah penyakit pes (Kematian Hitam), dan diperkirakan telah menewaskan 30% populasi Cina masa itu.[29][30]

Dinasti Ming (1368–1644)

Sepanjang masa kekuasaan Dinasti Yuan, terjadi penentangan yang cukup kuat terhadap kekuasaan asing ini di kalangan masyarakat. Sentimen ini, ditambah sering timbulnya bencana alam sejak 1340-an, akhir-akhirnya menimbulkan pemberontakan petani yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzhang dari suku Han mendirikan Dinasti Ming setelah berhasil mengusir Dinasti Yuan pada tahun 1368.

Tahun 1449, Esen Tayisi dari bangsa Mongol Oirat melaksanakan penyerangan ke wilayah Cina utara, dan bahkan sampai berhasil menawan Kaisar Zhengtong di Tumu. Tahun 1542, Altan Khan memimpin bangsa Mongol rumit mengganggu perbatasan utara Cina, dan pada tahun 1550 ia berhasil menyerang sampai ke pinggiran kota Beijing. Kekaisaran Dinasti Ming juga menghadapi serangan bajak laut Jepang di sepanjang garis pantai tenggara Cina;[31] peranan Jenderal Qi Jiguang sangat penting dalam mengalahkan serangan bajak laut tersebut. Suatu gempa bumi terdasyat di dunia, gempa bumi Shaanxi tahun 1556, diperkirakan telah menewaskan sekitar 830.000 penduduk, yang terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Jiajing.

Selama masa Dinasti Ming, pembangunan terakhir Tembok besar Cina berkesudahan dilaksanakan, sebagai usaha perlindungan bagi Cina atas invasi dari bangsa-bangsa asing. Walaupun pembangunannya telah dimulai pada masa sebelumnya, sesungguhnya sebagian akbar tembok yang terlihat masa ini adalah yang telah dibangun atau diperbaiki oleh Dinasti Ming. Bangunan bata dan granit telah diperluas, menara pengawas dirancang-ulang, serta meriam-meriam ditempatkan di sepanjang sisinya.


Dinasti Qing (1644–1911)


Kartun politik Perancis, kesudahan 1890-an. Lukisan Kue melambangkan Cina dibagi-bagi selang Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, dan Jepang.
Dinasti Qing (清朝, 1644–1911) didirikan menyusul kekalahan Dinasti Ming, dinasti terakhir Han Cina, oleh suku Manchu (滿族,满族) dari sebelah timur laut Cina pada tahun 1644. Dinasti ini merupakan dinasti feodal terakhir yang memerintah Cina. Diperkirakan sekitar 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan Manchu atas Dinasti Ming (1616-1644).[32] Bangsa Manchu akhir mengadopsi nilai-nilai Konfusianisme dalam pemerintahan mereka, sebagaimana tradisi yang dilaksanakan oleh pemerintahan dinasti-dinasti pribumi Cina sebelumnya.

Pada Pemberontakan Taiping (1851–1864), sepertiga wilayah Cina sempat jatuh dalam kekuasaan Taiping Tianguo, suatu gerakan keagamaan kuasi-Kristen yang dipimpin Hong Xiuquan yang menyebut dirinya "Raja Langit". Setelah empat belas tahun, barulah pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, tentara Taiping dihancurkan dalam Perang Nanking Ketiga tahun 1864. Kematian yang terjadi selama 15 tahun pemberontakan tersebut diperkirakan mencapai 20 juta penduduk.[33]

Beberapa pemberontakan yang memakan korban jiwa dan harta yang semakin akbar akhir terjadi, yaitu Perang Suku Punti-Hakka, Pemberontakan Nien, Pemberontakan Minoritas Hui, Pemberontakan Panthay, dan Pemberontakan Boxer.[34] Dalam banyak hal, pemberontakan-pemberontakan tersebut dan kontrak tidak sah yang berhasil dipaksakan oleh daya imperialis asing terhadap Dinasti Qing, merupakan tanda-tanda ketidakmampuan Dinasti Qing dalam menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul di ratus tahun ke-19.
 
Catatan kaki
^ a b "Cultural History and Archaeology of China". Bureau of Educational and Cultural Affairs, U.S. State Department. Diarsipkan dari yang asli on 2007-12-15. http://web.archive.org/web/20071215094418/ http://exchanges.state.gov/culprop/cn04sum.html. Diakses pada 2008-01-12.[pranala nonaktif]
^ Henry Cleere. Archaeological Heritage Management in the Modern World. 2005. Routledge. hal. 318. ISBN 0-415-21448-3.
^ a b Rixiang Zhu, Zhisheng An, Richard Pott, Kenneth A. Hoffman (June 2003). "Magnetostratigraphic dating of early humans in China" (PDF). Earth Science Reviews 61 (3-4): 191–361.
^ "Earliest Presence of Humans in Northeast Asia". Smithsonian Institution. http://www.mnh.si.edu/anthro/humanorigins/whatshot/2001/wh2001-3.htm. Diakses pada 2007-08-04.
^ "The discovery of early pottery in China" by Zhang Chi, Department of Archaeology, Peking University, China
^ "Neolithic Period in China". Timeline of Art History. Metropolitan Museum of Art. October 2004. http://www.metmuseum.org/toah/hd/cneo/hd_cneo.htm. Diakses pada 2008-02-10.
^ "Rice and Early Agriculture in China". Legacy of Human Civilizations. Mesa Community College. http://www.mc.maricopa.edu/dept/d10/asb/anthro2003/legacy/banpo/banpo.html. Diakses pada 2008-02-10.
^ "Peiligang Site". Ministry of Culture of the People's Republic of China. 2003. http://www.chinaculture.org/gb/en_artqa/2003-09/24/content_39079.htm. Diakses pada 2008-02-10.
^ Pringle, Heather (1998), "The Slow Birth of Agriculture", Science 282: 1446
^ Wertz, Richard R. (2007). "Neolithic and Bronze Age Cultures". Exploring Chinese History. ibiblio. http://www.ibiblio.org/chinesehistory/contents/02cul/c03s04.html. Diakses pada 2008-02-10.
^ "Huang He". The Columbia Encyclopedia (6th ed.). 2007.
^ BBC NEWS | Asia-Pacific | Chinese writing '8,000 years old'
^ "Carvings may rewrite history of Chinese characters". Xinhua online. 2007-05-18. Retrieved 2007-05-19.
^ "The Ancient Dynasties". University of Maryland. http://www-chaos.umd.edu/history/ancient1.html. Diakses pada 2008-01-12.
^ Bronze Age China at National Gallery of Art
^ Tulisan-tulisan pada tembikar Erlitou (ditulis dengan aksara Hanzi yang Disederhanakan)
^ Douglas J. Keenan (2002), "Astro-historiographic chronologies of early China are unfounded", East Asian History, 23: 61-68.
^ Li Xueqin (2002), "The Xia-Shang-Zhou Chronology Project", Journal of East Asian Archaeology, 4: 321–333.
^ a b c Fairbank, John King and Merle Goldman (1992). China: A New History; Second Enlarged Edition (2006). Cambridge: MA; London: The Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 0-674-01828-1
^ Ethel R. Nelson, Richard E. Broadberry, Ginger Tong Chock. God's Promise to the Chinese, p. 2. ISBN 0-937869-01-5.
^ Thorp, Robert L. "The Date of Tomb 5 at Yinxu, Anyang: A Review Article," Artibus Asiae (Volume 43, Number 3, 1981): 239–246.
^ The Cambridge History of Ancient China: From the Origins of Civilization to 221 BC. Cambridge University Press. 1999. pp. 124–125. ISBN 0521470307.
^ Perry, Elizabeth. [2002] (2002). Challenging the Mandate of Heaven: Social Protest and State Power in China. Sharpe. ISBN 0-7656-0444-2
^ Schirokauer & Brown 2006. "A Brief history of Chinese civilization: second edition". Wadsworth, Thomson Learning, pp. 25–47.
^ a b Bodde, Derk. (1986). "The State and Empire of Ch'in," in The Cambridge History of China: Volume I: the Ch'in and Han Empires, 221 B.C. – A.D. 220. Edited by Denis Twitchett and Michael Loewe. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-24327-0.
^ "Book "QINSHIHUANG"". http://www.uobuy.com/upload/2005/9/19/200591911278032621125.jpg. Diakses pada 2007-07-06.
^ Ban Chao, Britannica Online Encyclopedia
^ Ping-ti Ho, "An Estimate of the Total Population of Sung-Chin China", pada Études Song, Series 1, No 1, (1970) pp. 33-53.
^ "Course: Plague". http://web.archive.org/web/20071118121009/ http://chip.med.nyu.edu/course/view.php?id=13&topic=1.
^ "Black Death - Consequences". http://www.experiencefestival.com/a/Black_Death_-_Consequences/id/617544.
^ "China > History > The Ming dynasty > Political history > The dynastic succession", Encyclopædia Britannica Online, 2007
^ "Twentieth Century Atlas - Historical Body Count". http://users.erols.com/mwhite28/warstat0.htm#Manchu17c.
^ Userserols. "Userserols." Statistics of Wars, Oppressions and Atrocities of the Nineteenth Century. Diakses pada 2007-04-11.
^ Damsan Harper, Steve Fallon, Katja Gaskell, Julie Grundvig, Carolyn Heller, Thomas Huhti, Bradley Maynew, Christopher Pitts. Lonely Planet China. 9. 2005. ISBN 1-74059-687-0
 

sekian catatan kecil ini, sekedar memuaskan rasa ingin tau huehehe....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar